diposting oleh anita-fisip10 pada 12 June 2012
di Tugas PDB - 0 komentar
Anita Kurnia R. (071012063) – Tugas Individu PDB 3 Topik 11
Untuk menerapkan pembangunan berkelanjutan bagi negara berkembang
tentu bukan perkara yang mudah. Namun apa yang terjadi adalah dengan
kemampuan yang tidak setara dengan negara maju, negara berkembang pun
dituntut untuk melakukan apa yang dilakukan negara maju atas nama
pembangunan berkelanjutan. Model pembangunan berkelanjutan yang selama
ini diekspansi merupakan model-model Barat dimana untuk menerapkannya
negara berkembang harus mengeluarkan dana yang besar. Bahkan sebuah
kritik juga mengatakan bahwa aturan yang ditetapkan institusi
internasional hanya merupakan bentuk imperialisme dan kolonialisme dari
negara Barat (Baker, 2006:159), dengan konstruksi bahwa negara
berkembang membutuhkan negara maju dalam penerapannya.
Salah satu cara agar pembangunan berkelanjutan merupakan pembangunan
yang pro negara berkembang, dibutuhkan sebuah konseptualisasi ulang
mengenai pembangunan berkelanjutan yang juga sesuai dengan kebutuhan dan
tujuan negara berkembang. Dalam konsep baru pembangunan berkelanjutan
perlu dijabarkan mengenai hubungan kekuatan struktural yang menjadi
penyebab utama krisis lingkungan serta batasan-batasan struktural dalam
pembangunan berkelanjutan (Baker, 2006:160). Selain itu perlu juga
dibahas mengenai alternatif pembangunan yang mengubah sistem ekonomi
politik dengan meninggalkan logika kapital dan pasar seperti yang selama
ini dijalankan. Argumen mengenai perlunya transformasi struktur politik
dan ekonomi ini sebenarnya juga sudah terdapat dalam formulasi
Brundtland. Laporan Brundtland menyebutkan bahwa persamaan global dalam
hal level konsumsi tidak akan terwujud (Baker, 2006:161), karena itu
tanggung jawab pun tidak bisa disamaratakan. Negara berkembang dan maju
memiliki tugas tersendiri, menghapus tantangan pembangunan berkelanjutan
di negara berkembang dan mengurangi level konsumsi di negara maju.
Dengan konseptualisasi ulang ini, diharapkan akan terbentuk sebuah
perbedaan tanggung jawab antara negara negara berkembang dan maju.
Contohnya saja mengenai polulasi yang merupakan hal yang krusial. Negara
maju hanya mendesak negara berkembang mengurangi mengontrol kelahiran,
namun ini bukan hal mudah karena berhubungan dengan budaya dan agama.
Selain itu faktanya adalah meskipun populasi di negara berkembang lebih
tinggi, tetapi efek populasi pada lingkungan di negara maju lah yang
lebih tinggi (Baker, 2006:162). Kemudian dengan kesadaran bahwa negara
berkembang lebih memiliki banyak kekurangan, diharapkan juga negara maju
mau memberikan bantuan serta memenuhi apa yang menjadi permintaan
negara berkembang secara objektif. Perbedaan juga perlu diberikan pada
negara-negara berkembang, karena negara berkembang pun tidak memiliki
keadaan ekonomi, politik, dan pembangunan yang sama.
Untuk meningkatkan penerapan pembangunan berkelanjutan di negara
berkembang, Susan Baker memberikan lima kunci yang menghubungkan
lingkungan dan pembangunan. Pembangunan kebijakan dan prosesnya haruslah
mengedepankan lima kunci ini. Kunci pertama adalah menetapkan agenda
yang relevan (Baker, 2006:165). Negara berkembang memiliki prioritas
yang berbeda bergantung pada kemampuan mereka dan prioritas inipun
berbeda dengan negara maju. Di negara berkembang, permasalahan yang
diutamakan lebih kepada masalah dasar seperti kemiskinan, kesehatan,
pendidikan, air bersih, penebangan hutan, dan sebagainya. Kunci yang
kedua adalah menghubungkan gender dan lingkungan (Baker, 2006:166).
Keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan kebijakan ini dapat
dilakukan dalam hubungan pemerintah secara internasional ataupun
domestik. Selama ini wanita kurang dilibatkan dalam pembangunan
berkelanjutan, padahal wanita mendapat kesulitan yang lebih dari
kerusakan lingkungan. Selain itu peran wanita sebernarnya dapat berguna
karena hal ini akan mendorong persamaan dan partisipasi yang merupakan
konsep utama pembangunan berkelanjutan.
Kunci yang ketiga adalah memperhatikan hubungan perdagangan,
lingkungan, dan WTO (Baker, 2006:172). WTO disebutkan karena peran
pentingnya dalam menetukan aturan perdagangan internasional dan sanksi
yang dikenakan atas pelanggarannya. Banyak kritik yang menyebutkan bahwa
regulasi perdagangan WTO justru menghalangi negara untuk menerapkan
pembangunan berkelanjutan. Hal ini didikung dengan kurangnya
transparansi dan partisipasi aktivis lingkungan dalam pertemuannya.
Kebanyakan masalah yang muncul adalah aturan negara untuk menunjang
pembangunan berkelanjutan dianggap sebagai langkah proteksi (Baker,
2006:173), terutama aturan yang mengarah pada restriksi impor untuk
barang tanpa standar lingkungan tertentu. Untuk mengakomodasi
kepentingan perdagangan dan pembangunan berkelanjutan, diadakanlah
pertemuan di Doha dimana nilai perdagangan bebas akan disesuaikan dengan
pembangunan berkelanjutan. Selain itu diutarakan pula prinsip perbedaan
tanggung jawab dan kemampuan antar negara. Meskipun begitu hal ini
tidak lepas dari kritik mengenai peningkatan ketergantungan sampai model
Barat yang selalu dipaksakan.
Kunci keempat adalah hubungan antara ilmu pengetahuan dan kebijakan
pembangunan berkelanjutan (Baker, 2006:176). Hal ini berkaitan dengan
peran baru ilmuan dalam identifikasi dan merumusakan solusi bagi masalah
lingkungan. Ilmu pengetahuan yang digunakan ini tidak memihak pada
negara berkembang karena kurangnya kemampuan, salah satu contohnya
adalah penggunaan hak kekayaan intelektual. Selain itu ilmu pengetahuan
pun sifatnya tidak mutlak dan memungkinkan adanya revisi sehingga
membuka kemungkinan bagi kesalahan yang menyebabkan kerusakan lingkungan
yang lebih buruk. Dan kunci terakhir adalah rekonstruksi institusi
keuangan pemerintah global (Baker, 2006:178), seperti IMF, Bank Dunia,
dan WTO sebagai agen yang penting dalam penerapan pembangunan
berkelanjutan di negara berkembang. Untuk itu dibentuk Global Environment Facility
yang menyediakan mekanisme pendaan bagi kebijakan pembangunan
berkelanjutan. Masalah yang muncul adalah kurangnya transparansi dan
ketidakpuasan negara berkembang akan pengaturan keuangan yang ada.
Selain itu masalah juga muncul dari syarat Bank Dunia untuk pinjaman
yang tidak berujung sehingga menyebabkan eksploitasi yang tidak
terkendali. Meskipun Bank Dunia menyatakan telah berkomitmen pada proyek
ramah lingkungan, namun model yang diterapkan dikritik masih
berdasarkan konsepsi Barat mengenai pembangunan yang hanya fokus pada
ekonomi.
Kesimpulan yang dapat diambil dari bahasan kali ini adalah bahwa
penerapan pembangunan berkelanjutan di negara berkembang bukanlah tugas
yang mudah karena adanya perbedaan kemampuan dengan negara maju. Untuk
itu negara berkembang juga perlu dimintai sumbangan pandangan mengenai
pembangunan berkelanjutan agar tidak berujung pada kegiatan yang malah
merugikannya. Perlu rekonstruksi ulang mengenai pengertian pembangunan
berkelanjutan serta peran dan tanggung jawab negara yang tentu
berbeda-beda. Lima kunci yang ditawarkan Baker untuk implementasi
pembangunan berkelanjutan di negara berkembang perlu diperhatikan agar
juga memihak negara berkembang. Menurut penulis, yang paling penting
adalah pada kunci yang pertama yaitu menentuka agenda yang relevan bagi
kebutuhan negara berkembang karena inilah yang akan menjadi kunci bagi
kegiatan lain. Selain itu yang juga penting tentunya pengetahuan
mengenai masalah struktur ekonomi politik internasional yang selama ini
didominasi institusi serta negara maju di belakangnya.
Referensi:
Baker, Susan. 2006. “Challenges in the Third World” dalam Sustainable Development. Routledge. hlm. 158-85
Tidak ada komentar:
Posting Komentar